15 Maret 2012

Kenaikan BBM Perlu Ditinjau Kembali

Kenaikan BBM (Bahan Bakar Minyak) dalam waktu dekat ini menurut saya harus ditinjau kembali. Kenapa? Karena, menaikkan harga BBM hanyalah salah satu opsi, dari sekian banyak opsi yang dalam dilakukan untuk mengurangi beban pengeluaran pemerintah. APBN negara ini pada tahun 2011 lalu mencapai Rp 1.320 Triliun, dan lebih dari setengahnya digunakan untuk belanja aparatur negara. Kenaikan BBM yang diprediksi sebesar 1000-2000 rupiah per liternya, hanya akan mengurangi beban negara paling banyak Rp 10 Triliun saja. Untuk meyakinkannya, saya baru saja menemukan perhitungan dari salah satu sumber media online, seperti asumsi dibawah ini.

Sekarang, harga pasaran minyak mentah adalah $80/barrel sebagaimana beberapa waktu lalu, maka keuntungan pemerintah adalah ($80 - $20) x 640.000 per-hari atau $38,4 juta atau sekitar Rp 380 milir per hari (Harga produksi minyak mentah sekitar $20/barrel meski mungkin jauh lebih murah lagi).

Untuk memenuhi kebutuhan BBM dalam negeri, pemerintah harus mengimpor minyak sebesar 100.000 barrel per hari. Dengan harga pasaran $80 dollar/barrel, maka pemerintah harus mengeluarkan biaya sebesar $8 juta atau sekitar Rp 75 miliar per hari. Dengan demikian maka pemerintah masih mendapatkan surplus sebesar Rp 380 miliar - Rp 75 miliar = Rp 305 miliar per hari atau sekitar Rp 111 triliun setahun.

Kemudian katakanlah terjadi kenaikan harga BBM internasional hingga mencapai $100 per barrel. Pengeluaran pemerintah untuk mengimpor minyak memang naik menjadi $10 juta atau sekitar Rp 90 miliar per hari. Namun pendapatan pemerintah, tanpa menaikkan harga minyak, masih lebih besar dari angka itu dan pemerintah masih menanggung untung Rp 380 miliar - Rp 90 miliar = Rp 290 miliar per hari atau sekitar Rp 105 triliun setahun. Sama sekali tidak ada subsidi, hanya berkurang keuntungan sebesar Rp 111 triliun - Rp 105 triliun = Rp 6 triliun.

Lalu mengapa pemerintah mengatakan ke publik bahwa subsidi BBM ini memberatkan keuangan negara? Tidak lain karena dengan naiknya harga BBM, para pemilik perusahaan minyak asing yang mengelola 92% minyak mentah Indonesia dan pemerintahan liberal jajahan yahudi Indonesia tidak ingin kehilangan kesempatan mendapatkan durian runtuh. Dengan menaikkan harga minyak, tentu mereka mendapatkan keuntungan lebih besar meski tanpa itu pun mereka tidak pernah sama sekali mengeluarkan "subsidi" sesenpun. Kekurangan keuntungan yang hanya sebesar Rp 6 triliun itu sudah dianggap bencana dan mereka rela membebani rakyat dengan kenaikan BBM hanya agar keuntungan mereka tidak berkurang. Kenaikan harga BBM internasional sendiri hanya mengakibatkan berkurangnya keuntungan pemerintah dan perusahaan minyak asing, dan itulah membuat pemerintah merasa keberatan.

Lalu, kenapa pemerintah justru tidak menghentikan kegiatan komsumtifnya, seperti membeli mobil mewah untuk para anggota dewan, membangun gedung DPR/MPR baru, atau memotong gaji para pejabatnya? Kenapa selalu saja rakyat yang dikorbankan? Lihat foto dibawah ini, dimana tampak 3 orang menteri sedang asik berfoto bersama 10 caddy usai bermain golf, yang sangat mencerminkan terhadap ketidakpekaan kesusahan rakyat!


Sumber foto : detik dot com

15 komentar:

Template Toko Online Blogspot mengatakan...

Di Bogor malah sampai demo depan Istana Presiden.

agusbg mengatakan...

saya nyimak aja deh nggak berani komentar tentang politik hehe...

district16 mengatakan...

klo dilihat dri kondisi perekonomian rakyat emang kebijakan menaikkan harga BBM(sebenarnya sey pengurangan subsidi BBM krena 4500 per liter tu sudah subsidi) ini tidak bijak tpi klo mau mengangkat pendapatan negara ya emang perlu dinaikkan

Sam Rinaldy mengatakan...

Tapi terkadang saya juga agak kurang care dengan rakyat...
Contohnya saja perbaikan jalan. Kebanyakan Kuli2nya bekerja tidak cekatan, dibuat lama agar bayaran mereka kan bertambah, sebab kebanyakan mereka dibayar harian.

Herman mengatakan...

kalau mau mengangkat pendapatan negara tapi rakyat harus dikorbankan, koq rasanya jauh melenceng dari UUD 1945 yah?

Tabah mengatakan...

yaelah mana mau lah gaji dipangkas. . . orang malah gembar gembor minta dinaikan kok. . hehehehe .. . lagian yang membuat kebijakan juga sapa. . ??? apa rakyat?? enggak to. . . makanya rakyat hanya bisa angguk-angguk dan geleng geleng. . .

kunjungan malem. . . . :)

DewiFatma mengatakan...

*menarik nafas*

*membuang nafas*

*lemas*

Indonesia oh Indonesia...

Herman mengatakan...

Ada info baru, katanya tarif listrik tidak jadi dinaikkan Mei ini, tapi ditunda hingga akhir tahun ini.
Hal ini untuk mengantisipasi memuncaknya kemarahan masyarakat kepada pemerintah akibat kenaikan BBM yang diprediksi sebesar 2000/liter.

Zippy mengatakan...

Kalo saya sih ikut2 aja :D
BBM naik ya mau diapa kalo emang harga minyak dunia per barelnya udah naik :D
Lagian harga eceran bensin di Jayapura juga lebih mahal, 10rb/liter :)))
Yang jelas sih, mudah2an pasokan minyaknya lancar aja :)

HA Peduli mengatakan...

postingan yang sangat menarik :)
sangat bermanfaat.. ^_^
keep posting yaa..

ingin barang bekas lebih bermanfaat ?
kunjungi website kami, dan mari kita beramal bersama.. :)

Tabah mengatakan...

kunjungan sore ahhh. . .. :)

Herman mengatakan...

kunjungan diterima :)

makmur mengatakan...

aku malah bingung lihat angka2 gitu bro..

davisco mengatakan...

mas.. gk salah tuh infonya..
saya juga tidak suka harga BBm akan dinaikan..
tp tolong jgn mmpropokasi masyarakat dengan itung2n opini mas yg blum tentu bnar..

Herman mengatakan...

Lho, pendapat saya koq anda yang sewot mas?

Hitung2an singkat diatas, sedikit banyak, pasti akan mendekati dengan perhitungan aslinya.

Mungkin anda harus baca baik2 kata demi kata tulisan saya diatas, saya juga tidak setuju dengan harga BBM naik.