Kemarin tuntas sudah seluruh pertandingan Piala Thomas dan Piala Uber 2014. Di Thomas, kejutan besar terjadi setelah tim non unggulan Jepang mengalahkan tim Unggulan ke 2 China 3-0 di babak semifinal. Ini benar-benar mimpi buruk bagi Tiongkok karena mereka berhasil menjuarai secara beruntun 5 edisi Piala Thomas sebelumnya. Selanjutnya Jepang mengalahkan Malaysia 3-2 di babak final dan berhasil menjuarai Piala Thomas untuk bertama kalinya bagi negeri Matahari Terbit itu. Malaysia sebelumnya mengalahkan Indonesia yang berada di unggulan pertama turnamen ini dengan skor telak 3-0.
Tampilkan postingan dengan label Catatan Badminton. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Badminton. Tampilkan semua postingan
26 Mei 2014
05 Desember 2013
Wang Lin "Juara WBC 2010 Itu Telah Pensiun"
![]() |
| Wang Lin saat menjuarai WBC tahun 2010 di Prancis |
19 Oktober 2013
WBF Perlu Berbenah
Kemarin, di pertadingan QF (Quarter Final), 2 nomor China walkover dari turnamen SSP Denmark Open 2013. Yang walkover masing-masing adalah Lie Xue Rui yang akan berhadapan dengan sesama negaranya, Wang Shi Xian, serta /Yu Yang/ Wang Xiaoli yang juga akan bertemu dengan rekan senegaranya, Bao Yixin/Tang Jinhua. Sebenarnya cukup jelas alasan mereka walkover, yakni untuk menaikkan BWF ranking rekan senegaranya tersebut.
17 Oktober 2013
Pelatnas PBSI Akan Ubah Sistem Pelatihan
![]() |
| Rexy Mainaky mengeluarkan kebijakan terkait PBSI. Tentunya beliau juga harus siap dengan konsekuensi apabila kebijakannya gagal berbuah manis. |
10 Oktober 2013
Tim Uber Indonesia Terancam Absen
![]() |
| Tampak beberapa srikandi badminton Indonesia sedang bergaya dalam sesi latihan |
30 September 2013
Indonesia Rebut 3 Gelar Indonesia Open GP Gold 2013
Sudah turun dengan kekuatan penuh, Indonesia hanya kebagian 3 gelar saja di turnamen IOGPG 2013. Indonesia meraih tiga gelar di sektor Tunggal Putra, Ganda Putra, dan Ganda Campuran. Sedangkan China mencuri gelar dari kandang Indonesia untuk sektor Tunggal Putri dan Ganda Putri. Hasil ini mencerminkan bahwa sektor tunggal putri dan ganda putri kita masih krisis. China yang "hanya" diwakili dua wakilnya saja dengan menurunkan pemain pelapis nomor kesekian di tunggal dan ganda putri bisa menciptakan all chinese final di dua nomor (WS dan WD), sedangkan Indonesia yang turun sekampung hanya bisa diam duduk di bangku penonton.
23 Mei 2013
PIALA SUDIRMAN 2013 : Indonesia Gagal ke Semifinal
Indonesia memang kalah secara terhormat atas China di babak perempat final. Namun, kekalahan ini membuat tim Merah-Putih, julukan Indonesia, mencatatkan pencapaian terburuknya selama tampil di ajang Piala Sudirman sejak 1989. Tersingkir di perempat final membuat Indonesia untuk kali pertama gagal lolos ke semifinal Piala Sudirman.
08 Agustus 2012
Kisah Mantan Pelatih Bulu Tangkis Indonesia Yang Sukses di Negeri Tiongkok
![]() |
| Sumber berita pada http://nasional.kompas.com/read/2010/05/19/15152728/ |
02 Agustus 2012
Karena 'Main Sabun', Delapan Pemain Bulutangkis Dunia DIGUGURKAN
Tampak Greysia Polli/Meiliana Jauhari dan Ha Jung-eun/Kim Kin-jung yang bersalaman usai melakoni sebuah pertandingan "sabun"
18 Februari 2012
Hasil Kualifikasi Tim Thomas-Uber Indonesia 2012
Tim Thomas Indonesia yang sebelumnya sangat perkasa setelah mengalahkan Macau 5-0, Singapura 5-0, dan India 3-2 di babak kualifikasi Grup B dan sekaligus menjadi juara Grup B, lalu menang atas Korea Selatan di babak Perempat Final, akhirnya harus menelan pil pahit di babak semifinal setelah di libas tim tuan rumah, China dengan skor telak 3-0. Dengan demikian, Indonesia harus merelakan 1 tiket Finalnya ke China, yang di partai pamungkas nanti dipastikan akan menghadapi Jepang, setelah sebelumnya mengalahkan Malaysia dengan skor 3-0 di babak semifinal.Berikut susunan skuad Tim Thomas Indonesia 2012 :
Tim Inti Thomas Indonesia
-Tunggal putra : Simon Santoso, Taufik Hidayat, Tommy Sugiarto, Dionysius Hayom Rumbaka
-Ganda putra : Bona Septano, Mohammad Ahsan, Alvent Yulianto Chandra, Hendra Aprida Gunawan, Markis Kido, Hendra Setiawan
Sementara untuk Tim Uber Indonesia yang menjadi runner-up Grup Y, juga dipastikan gagal di babak perempat final setelah dikalahkan oleh tim negara yang sama, China, dengan skor yang sama-sama telak, 3-0. Dengan ini, Tim Uber Indonesia masih bisa merebut peringkat kelima untuk bisa lolos ke pertandingan utama (putaran final) Mei 2012 nanti. Peringkat kelima yang diperebutkan ini akan diadu rangkingnya dengan zona Eropa. Bila Indonesia bisa mendapatkan poin di sini, maka Indonesia lolos ke kejuaraan Piala Uber.
Berikut susunan skuad Tim Uber Indonesia 2012 :
Tim Inti Uber Indonesia
-Tunggal putri : Lindaweni Fanetri, Adrianti Firdasari, Maria Febe Kusumastuti, Belatrix Manuputty
-Ganda putri : Greysia Polii, Meiliana Jauhari, Nitya Krishinda Maheswari, Anneke Feinya Agustine, Liliyana Natsir, Shendy Puspa Irawati
Dengan adanya hasil dari kejuaraan Preliminary Asia Zone di Wuhan, China ini, Tim Thomas-Uber Indonesia 2012 sebenarnya sudah jelas, bahwa sudah saatnya pemain-pemain tua dipinggirkan. Harus perbanyak kompetisi junior sebagai pencarian bibit baru dan mengirimkan mereka untuk berlaga di ajang-ajang "kelas 2" dunia untuk menambah jam terbang. Sudah tidak bisa diharapkan lagi Tim Thomas & Uber Indonesia yang sekarang ini, yang boleh dibilang rata-rata usia kepala 30-an, dan sudah lebih dari 10 tahun di timnas. Artinya, secara fisik, sudah habis. Secara skill pun, dilatih bagaimana pun sudah tidak bisa berkembang, alias mentok. Jika tidak, jangan berharap banyak di fase putaran final pada Mei 2012 nanti.
15 November 2011
Cabor Bulu Tangkis Tetap Andalkan Taufik Hidayat di SEAGAMES 2011

Setelah beregu Putra berhasil meraih medali EMAS setelah mengalahkan Malaysia 3-1 di partai Final dan beregu Putri hanya meraih medali PERAK setelah dikalahkan Thailand 3-1, kini cabor (cabang olahraga) Bulu Tangkis memasuki babak nomor individual. Sungguh sayang, di nomor tunggal putra, Indonesia sepertinya sudah tidak punya lagi pemain lain, dengan masih terus mengandalkan Taufik Hidayat dan Simon Santoso (setelah Sony DK mengalami cidera, tidak ikut SEA GAMES). Padahal Taufik pada SEAGAMES 2009 lalu sudah mengeluarkan statement untuk mundur dari pelatnas dan sekalian dari kejuaraan2 lokal, termasuk SEAGAMES guna memberikan kesempatan kepada pemain muda.
Meski demi memenuhi target PBSI yaitu 4 medali EMAS (dari 7 medali) karena sebagai tuan rumah dituntut tidak tampil mengecewakan, tapi sangatlah tidak bijak untuk terus memaksakan pemain tua untuk bermain di kompetisi sekelas SEAGAMES, dimana negara-negara sekelas Malaysia dan Singapura pun sudah tidak lagi memakai pemain senior mereka di ajang "sekelas" SEAGAMES ini, dan lebih berkonsentrasi di ASIAN GAMES/OLIMPIADE atau di kejuaraan2 dunia lainnya (All England, China Open, Indonesia Open, dll). Regenerasi skuad tidak akan berjalan, yang pada akhirnya, akan ada kevakuman antar generasi. Disaat sudah waktunya pemain JUNIOR mengisi pos pemain SENIOR, tapi yang terjadi malah pemain SENIOR terus dimainkan. Hasil akhirnya, disaat pemain JUNIOR sudah saatnya (matang), skill dan jam terbang mereka masih sangat minim, karena WAKTU MEREKA SEPERTI DIRAMPOK oleh pemain-pemain senior. Ujung-ujungnya efek domino akan berlaku, dan akhirnya prestasi kita terus merosot.
Baca ini sebagai referensi
28 Mei 2011
Indonesia Hanya Sampai Semifinal di Piala Sudirman 2011

Akhirnya tuntas sudah perjuangan tim Indonesia di Piala Sudirman. Setelah lolos dari Rusia dan Malaysia di babak penyisihan dan unggul atas Jepang dibabak perempat final, kali ini Indonesia takluk atas Denmark di babak semifinal dengan skor 3-1.
Ya, dengan bermodalkan rata-rata pemain muda, Indonesia memang sulit untuk sekedar masuk kefinal, apalagi memenangi turnamen ini. Tapi, satu hal yang perlu diapresiasi, yaitu pemain-pemain muda yang tampil kali ini, cukup bagus. Mungkin dibutuhkan 1-2 tahun jam terbang lagi agar bisa berprestasi di kancah Internasional. Oke. Maju terus Tim bulutangkis Indonesia!
16 Mei 2010
Tim Thomas China Juara
Akhirnya Tim Thomas China menjadi Juara untuk kedelapan kalinya setelah unggul dari Tim Thomas Indonesia dengan skor 3-0. Dengan ini Tim Thomas China berhasil mengukuhkan diri diposisi kedua sebagai pengumpul juara piala Thomas 8 kali, dibawah Tim Thomas Indonesia dengan raihan 13 kali. Pada hari kemarin Tim Uber Korea Selatan berhasil menjadi juara setelah mengalahkan Tim Uber China dengan skor 3-1. Hasil ini akan menjadi sejarah bagi Tim Uber Korea, karena merupakan raihan juara Uber pertama kali bagi mereka. Sementara bagi Tim Uber China, kegagalan ini melepas angan-angan mereka untuk juara beruntun semenjak tahun 1996.
Meski Tim Thomas Kali ini kalah, tapi setidaknya semangat juang yang diperlihatkan Markis Kido/ Hendra Setiawan yang main nomor 2 dan Simon Santoso yang main nomor 3 sangat baik.Mereka bisa mengimbangi Tim Thomas China. Apalagi saat Simon main, yang terasa agak sedikit ”dicurangi” wasit pertandingan. Tapi secara keseluruhan, Tim China masih unggul 1 strip dengan Indonesia. Unggulnya dimana? Di Mental juara dan spirit.
Seperti kata Chandra Wijaya, mantan pebulutangkis ganda putra Indonesia, Tim Thomas/Uber Indonesia kalah disisi FISIK. Terbukti, saat Tim Thomas berlaga di nomor 2 dan 3 yang memainkan rubber set (3 babak), selalu kalah jauh skornya tertinggal dengan lawan saat dibabak ke 3. Ini perlu pembenahan. Saya lihat, kita sudah tertinggal 1 strip dengan China, dan setara dengan Malaysia atau Korea. Jika ingin mengembalikan Piala Thomas-Uber ke tanah air, seluruh sistem mulai dari pengurus PBSI sampai pemain harus dirombak.
Strategi yang harus diterapkan menurut saya, adalah dengan mendirikan titik-titik pelatihan SETARA CIPAYUNG di beberapa kota besar sentra penghasil bibit-bibit muda.. Misalnya di Medan, palembang, Bandung, Surabaya, dan Manado. Dengan demikian, pemain-pemain dari klub badminton yang hebat bisa masuk camp pelatnas ”Cipayung” yang ada di daerah-daerah yang sudah didirikan.
Tujuannya, adalah alur perekrutan bisa berjalan mulus, mulai dari usia <13 tahun hingga berjenjang. Juga nantinya akan mempermudah kerja dari Cipayung pusat dalam hal penganggaran dan perekrutan pemain. Jika sudah seperti ini, niscaya Piala Thomas-Uber, sampai medali Olimpiade pun bisa didapat. Alasannya, karena kita punya MODAL. Tak hanya mengandalkan faktor kebetulan semata.
Juga struktur kepengurusan PBSI, saya sarankan jangan pakai orang dengan latar belakang POLITIK, karena nantinya hanya akan menjadi kendaraan politik ybs saja. Paling tidak, harus cari orang-orang yang memiliki latar belakang pebulutangkis, atau pemerhati bulutangkis ditanah air. Tak lupa juga tentunya, yakni harus punya banyak koneksi dengan petinggi untuk memudahkan pendapatan dana.
14 Mei 2010
Tim Thomas Indonesia ke Final
Tim Thomas Indonesia akhirnya memastikan 1 tempat di final piala Thomas, setelah mengalahkan Tim Jepang 3-1 di babak semifinal. Nantinya Tim Thomas kita akan menghadapi China di final, yang dibabak sebelumnya berhasil mengatasi perlawanan Tim Thomas tuan rumah, Malaysia, dengan skor 3-0. Sungguh pencapaian yang luar biasa. Semoga bisa meraih hasil yang maksimal di babak final, dan menjadi juara.Sementara di Tim Uber Indonesia kita, gagal ke final piala Uber setelah dihajar Tim Uber China dengan skor telak, 3-0. Tim Uber China akan menghadapi Tim Uber Korea Selatan di final piala Uber nanti. Tim Uber kita harus berbenah kalau tidak mau mendapatkan hasil yang buruk terus. Caranya? Berlatih dan cari pelatih ke negeri China. Jangan malu, karena jelas-jelas kita sudah tertinggal jauh dari negara China.
07 Mei 2010
Jelang Piala Thomas Uber Malaysia 2010
Tanggal 9 Mei nanti, seluruh pertandingan Piala Thomas Uber resmi dibuka di Malaysia. Tim Thomas Indonesia akan menghadapi Australia di laga pertama babak penyisihan nanti. Sesudahnya, Tim Thomas Indonesia juga akan menghadapi India di partai ke dua. Rasanya mudah untuk melewati kedua tim tersebut. Diprediksi apabila melenggang lolos ke babak perempat-final, maka tim thomas Indonesia akan bertemu dengan China, Malaysia, atau Denmark.Sedangkan Tim Uber Indonesia akan menghadapi Australia dan Denmark di babak penyisihan. Lolos atau tidaknya Tim Uber Indonesia ini ditentukan dari dua partai awal ini.
Prediksi saya, Untuk Tim Thomas Indonesia, akan lolos dengan mudah di babak penyisihan awal. Tapi saat memasuka babak perempat-final, lolos tidaknya Indonesia ditentukan dari calon lawan yang akan dihadapi. Apabila Tim Thomas Indonesia menghadapi China, maka 99% sudah pasti gagal. Jika menghadapi Malaysia/Denmark peluang lolos 50%. Tapi ingat, ini main di Malaysia, bukan di Indonesia.
Sedangkan Tim Uber Indonesia paling banter hanya lolos babak penyisihan saja. Setelah masuk babak perempat-final, saya benar-benar ragu kalau Tim Uber kita bisa berbuat banyak.
Adapun yang menjadi kendala sampai saat ini, adalah tidak ada regenerasi yang mantap di tubuh PBSI, baik pengurusnya maupun pemainnya. Orang-orangnya hanya itu-itu saja. Ihat saja di Tim Thomas Indonesia, sudah 10 tahun posisi Taufik-Sony-Simon bertahan terus tanpa tergantikan. Hasilnya, prestasi yang didapatkan kian jeblok saja. Sementara di pasangan ganda, hanya pasangannya saja yang diutak-atik/bongkar-pasang, tetapi pemainnya sama saja. Seeperti Markis kido, Hendra Setiawan, Alvent Yulianto Chandra, Hendra Aprida Gunawan, Muhammad Ahsan, dan Nova Widianto.
Di Tim Uber Indonesia juga setali tiga uang. Pemain-pemain seperti Maria Febe Kusumastuti, Adriyanti Firdasari, Maria Kristin Yulianti, Greysia Polii, Nitya Krishinda Maheswari, Shendy Puspa Irawati, Meiliana Jauhari, dan Lilyana Natsir menjadi tumpuan disetiap ajang yang dihadapi tanpa ada regenerasi/pemain baru. Kalaupun ada pemain baru, hanya 1-2 kali saja diujicobakan, dan karena kualitasnya memang sangat rendah, maka pemain baru terebut dikembalikan ke pelatnas Cipayung.
Sudah capek juga rasanya membahas masalah Olahraga di Indonesia yang miskin prestasi. Mulai dari pentas sepak bola, bulu tangkis, sampai ke tingkat dunia sekelas SEA GAMES dan OLIMPIADE. Semua menunjukkan grafik penurunan yang signifikan dalam 10 tahun terakhir. Kenapa semua ini bisa terjadi? Ada satu penyebabnya. Karena di Indonesia miskin sarana dan prasarana pendukung olahraga. Seperti lapangan dan perlengkapan olahraga. Atlit bisa dibina. Tapi membinanya gimana jika sarana pendukungnya pas-pasan. Juga kurang insentif gaji/bonus, pelatih berkualitas, dan perekrutan yang terbuka. Semua bisa memungkinkan jika pemerintah mengalokasikan dana >1 triliun/100 juta USD diluar pembangunan stadion untuk urusan olahraga. Jika kurang dari angka segitu? Yah kayak ginilah restasi kita, selalu miskin dan makin terpuruk...
01 Juli 2009
Malaysia Open 2009
Tak Ada Wakil Indonesia di Final
Indonesia lagi-lagi gagal meloloskan satu pun wakilnya ke final Malaysia Open Grand Prix Gold. Dua wakil tersisa di ganda putra dan campuran semuanya harus mengakui keunggulan lawan.
Dalam pertandingan yang digelar hari Sabtu (27/6/2009), ganda campuran Hendra Aprida Gunawan/Vita Marissa turun pertama untuk meladeni duet China Xu Chen/Zhao Yunlei. Hasilnya, hanya butuh 30 menit, Hendra/Vita harus takluk 12-21, 15-21, dari pasangan yang diunggulkan di tempat ketiga tersebut. Harapan tersisa disematkan ke pundak ganda putra Alvent Yulianto/Hendra Aprida. Mereka menantang ganda tuan rumah, Koo Kien Keat/Tan Boon Heong. Hendra Aprida kembali harus menelan pil pahit karena duetnya dengan Alvent tak sanggup membendung Koo/Tan dan kalah 13-21, 21-17 11-21.
Partai final turnamen ini dikuasi oleh tuan rumah Malaysia dan China. Malaysia menempatkan empat wakil, dengan All Malaysian Final di nomor ganda putra. Sedangkan China menempatkan enam wakil dengan nomor tunggal putri dan ganda campuran dipastikan jadi milik mereka.
Ini menandakan suatu preseden buruk bagi tim bulu tangkis Indonesia. 3 kejuaraan yang dilangsungkan di Asia Tenggara (Singapura, Indonesia, dan Malaysia) tidak ada satupun gelar yang didapat. Tidak tahu ada apa dengan timnas Indonesia ini. Sudah diwanti-wanti karena gagal terus, tapi tidak ada perubahan. Kalau begini stop saja mengikuti semua turnamen kejuaraan bulu tangkis yang ada untuk sementara waktu. Dari pada harus buang-buang duit tapi tidak ada hasil, hanya kegagalan dan sakit hati terus yang didapat.
Bagaimana nanti di Sea Games 2009 mendatang? Kalau begini prestasi yang ditorehkan. Selama tahun ini (sampai bulan juni), baru 1 gelar yang didapat dari semua kejuaraan resmi. Sudah capek sekali saya ngomong gini terus. PBSI harus benar-benar berbenah, dengan mengambil langkah esktrem. Kalau egk mau kita bisa dicap “goblok” oleh tim-tim yang lain. Bahkan, dikandang saja kita tidak mampu berdiri lagi.
Saya sarankan kepada “bos” PBSI kalau anda tidak mampu memegang tanggung jawab segera mundurlah dengan terhormat. Jangan sampai prestasi Indonesia HABIS ditangan anda! Begitu pun dengan “pemain-pemain tua” yang ada di pelatnas. Kalau tidak mau latihan serius, anda mundur saja! Masa baru main 2 set sudah “minta ganti”? Fisik selalu menjadi kendala. Anda kan atlit bulu tangkis, tentunya harus siap bermain 3 set, serta istirahat selang sehari setiap pertandingan. Bukannya malah berhadap mujur menang 2 set langsung. Ingat, Fisik adalah modal nomor satu untuk setiap jenis olahraga lapangan! Menang skill saja = Cuma 25% kemenangan. Kalau perlu, GANTI pelatih yang ada kalau pelatihpun cuma menang prestasi masa mudanya dulu.
Mau apa lagi? Lihat saja bagaimana perkembangan timnas Indonesia ini kedepannya di turname-turnamen yang lain. Saya akan tetap mengkritik jika prestasinya tidak ada perubahan, karena satus-atunya olahraga lapangan yang masih menjadi “muka” Indonesia adalah bulu tangkis ini…
Indonesia lagi-lagi gagal meloloskan satu pun wakilnya ke final Malaysia Open Grand Prix Gold. Dua wakil tersisa di ganda putra dan campuran semuanya harus mengakui keunggulan lawan.
Dalam pertandingan yang digelar hari Sabtu (27/6/2009), ganda campuran Hendra Aprida Gunawan/Vita Marissa turun pertama untuk meladeni duet China Xu Chen/Zhao Yunlei. Hasilnya, hanya butuh 30 menit, Hendra/Vita harus takluk 12-21, 15-21, dari pasangan yang diunggulkan di tempat ketiga tersebut. Harapan tersisa disematkan ke pundak ganda putra Alvent Yulianto/Hendra Aprida. Mereka menantang ganda tuan rumah, Koo Kien Keat/Tan Boon Heong. Hendra Aprida kembali harus menelan pil pahit karena duetnya dengan Alvent tak sanggup membendung Koo/Tan dan kalah 13-21, 21-17 11-21.
Partai final turnamen ini dikuasi oleh tuan rumah Malaysia dan China. Malaysia menempatkan empat wakil, dengan All Malaysian Final di nomor ganda putra. Sedangkan China menempatkan enam wakil dengan nomor tunggal putri dan ganda campuran dipastikan jadi milik mereka.
Ini menandakan suatu preseden buruk bagi tim bulu tangkis Indonesia. 3 kejuaraan yang dilangsungkan di Asia Tenggara (Singapura, Indonesia, dan Malaysia) tidak ada satupun gelar yang didapat. Tidak tahu ada apa dengan timnas Indonesia ini. Sudah diwanti-wanti karena gagal terus, tapi tidak ada perubahan. Kalau begini stop saja mengikuti semua turnamen kejuaraan bulu tangkis yang ada untuk sementara waktu. Dari pada harus buang-buang duit tapi tidak ada hasil, hanya kegagalan dan sakit hati terus yang didapat.
Bagaimana nanti di Sea Games 2009 mendatang? Kalau begini prestasi yang ditorehkan. Selama tahun ini (sampai bulan juni), baru 1 gelar yang didapat dari semua kejuaraan resmi. Sudah capek sekali saya ngomong gini terus. PBSI harus benar-benar berbenah, dengan mengambil langkah esktrem. Kalau egk mau kita bisa dicap “goblok” oleh tim-tim yang lain. Bahkan, dikandang saja kita tidak mampu berdiri lagi.
Saya sarankan kepada “bos” PBSI kalau anda tidak mampu memegang tanggung jawab segera mundurlah dengan terhormat. Jangan sampai prestasi Indonesia HABIS ditangan anda! Begitu pun dengan “pemain-pemain tua” yang ada di pelatnas. Kalau tidak mau latihan serius, anda mundur saja! Masa baru main 2 set sudah “minta ganti”? Fisik selalu menjadi kendala. Anda kan atlit bulu tangkis, tentunya harus siap bermain 3 set, serta istirahat selang sehari setiap pertandingan. Bukannya malah berhadap mujur menang 2 set langsung. Ingat, Fisik adalah modal nomor satu untuk setiap jenis olahraga lapangan! Menang skill saja = Cuma 25% kemenangan. Kalau perlu, GANTI pelatih yang ada kalau pelatihpun cuma menang prestasi masa mudanya dulu.
Mau apa lagi? Lihat saja bagaimana perkembangan timnas Indonesia ini kedepannya di turname-turnamen yang lain. Saya akan tetap mengkritik jika prestasinya tidak ada perubahan, karena satus-atunya olahraga lapangan yang masih menjadi “muka” Indonesia adalah bulu tangkis ini…
21 Juni 2009
Indonesian Open 2009
Gagal lagi gagal lagi. Ramalan saya terbukti! Tulisan saya yang lalu di Singapore Open tidak salah. Indonesia sudah habis. Mau diapakan lagi, main kandang saja kalah telak!!! Tidak ada satu gelarpun yang didapat. Ini hasil selengkapnya:
Hasil lengkap final Indonesia Open Super Series 2009
Tunggal putra
Lee Chong Wei (MAL) vs Taufik Hidayat (INA) 21-9 21-14
Tunggal putri
Saina Nehwal (IND) vs Wang Lin (CHN) 12-21 21-18 21-9
Ganda putra
Jung Jae Sung/Lee Yong Dae (KOR) vs Cai Yun/Fu Haifeng (CHN) 21-15 21-18
Ganda putri
Chin Eei Hui/Wong Pei Tty (MAL) vs Cheng Shu/Zhao Yunlie (CHN) 21-16 21-16
Ganda campuran
Zheng Bo/Ma Jin (CHN) vs Lee Yong Dae/Lee Hyo Jung 21-17 8-21 21-16
Saya mengutip berita di www.detik.com tentang prestasi Indonesia beberapa tahun terakhir ini.
Jakarta - Dunia bulutangkis Indonesia belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan prestasi setelah menurun dalam beberapa tahun terakhir. Tanpa gelar di turnamen di kandang sendiri adalah sebuah bukti lain.
Di Indonesia Open Super Series yang berakhir hari Minggu (21/6/2009) ini, hanya satu wakil "Merah Putih" di babak final, yaitu tunggal putra Taufik Hidayat. Namun ia gagal mengatasi unggulan teratas Lee Chong Wei (Malaysia) dan kalah 9-21 14-21.
Ini adalah kali kedua Indonesia tidak kebagian gelar juara di nomor apapun sejak Indonesia Terbuka dihajat pada 1982 -- dan mulai diberi level Super Series oleh BWF sejak 2007. Dua tahun lalu juga tidak ada pemain tuan rumah yang naik podium juara di Jakarta.
Catatan minus lain tentang prestasi para atlet tepok bulu Indonesia di level tinggi internasional adalah, dari enam kompetisi bertajuk Super Series yang telah digelar di tahun 2009, hanya satu gelar diraih. Di Malaysia Super Series pasangan Nova Widianto/Liliyana Natsir menjadi pemenang di nomor ganda campuran.
Di ajang dunia beregu campuran, yakni Piala Sudirman 2009 di Guangzhou, Indonesia hanya sampai babak semifinal. Mereka dihentikan Korea Selatan, yang di final kalah dari China.
Di Piala Thomas, setelah memenangi lima edisi berturut-turut (1994, 1996, 1998, 2000, dan 2002), hingga kini belum pernah lagi supremasi tertinggi bulutangkis beregu putra itu disemayamkan di Indonesia.
Di Piala Uber bahkan lebih lama lagi. Terakhir kali piala itu dimenangi Indonesia adalah 23 tahun silam.
Di beberapa turnamen besar lain, Indonesia juga tak lagi dominan, bahkan tertinggal jauh terutama jika dibandingkan dengan China. Di All England, misalnya, kali terakhir ada pemain Indonesia yang juara adalah di tahun 2003 atas nama ganda putra Candra Wijaya/Sigit Budiarto.
Di Olimpiade 2008, tradisi satu medali emas sejak Olimpiade Atlanta 1996 belum bisa ditingkatkan. Dari ajang di Beijing, China, tersebut, satu-satunya medali emas yang disumbangkan cabang badminton dibukukan ganda putra Markis Kido/Hendra Setiawan.
Sebagai bumbu pelengkap kekecewaan, pihak PBSI pun menolak mengambil tanggung jawab atas rangkaian kegagalan yang didapat tim Indonesia ini. Zzz…
Saya agak kurang “sreg” mendengar komentar yang dilontarkan Ketua Umum PBSI Djoko Santoso yang menolak mencari kambing hitam dan memilih sikap mengambil hikmahnya saja. Nih dia kutipan komentarnya "Saya berharap kita bisa mengambil hikmah dari kekalahan yang diderita. Jangan selalu mencari kambing hitam," ungkap Djoko kepada wartawan di Istora Senayan, Jakarta.
Ya wong kalah yah kalah. Mau ambil hikmah dari mana, kita selalu kalah terus. Prestasi ibarat kayak matahari yang makin ke barat, alias makin “senja”. Menurut saya, PBSI tetap harus siap menjadi “kambing hitam” publik. Wong namanya bulutangkis kan bernaung di PBSI, masa mau salahkan PSSI, atau yang lain. Jangan Cuma mau enaknya saja donk pak!
Lihat lagi komentar lainnya: Djoko mengaku simpati kepada prestasi para punggawa pelatnas di turnamen kali ini. Namun dikatakannya, lawan-lawan Indonesia sekarang setingkat di atas Sonny Dwi Kuncoro dkk.
Jangankan setingkat bos, bahkan sudah 2-3 tingkat tertinggal. Dulu Negara kita “hanya” kalah dari China. Sekarang, kita sudah kalah dari Korea dan Malaysia, Bahkan melawan Jepang, Singapura, AS, dan Inggris pun sudah harus “ngos-ngosan”. Itu bukti bahwa kemampuan kita bukan maju, malahan mundur. Wong kemampuan tetap saja kita bisa dikejar.
Dan inilah komentar terakhir dari “bos” PBSI ini "Sistem olahraga keseluruhan di Indonesia memang sudah ketinggalan dari negara lain. Makanya kami sekarang sedang mengusahakan pembinaan untuk pebulutangkis muda di Magelang. Mudah-mudahan empat tahun mendatang prestasi kita bakal kelihatan,” pungkasnya.
Mau kayak timnas bareti atau primavera bos? Saya jamin egk akan ada hasilnya! Sekarang saja prestasi para timnas bulutangkis senior sudah jeblok akibat KEMAMPUAN YANG PAYAH (sudah termasuk skill, fisik, dan mental juara). Gimana juniornya? Saya kembali menyarankan PAKAILAH PELATIH ASING. JANGAN GENGSI. Terus tambah dana buat ikut kompetisi di luar negeri. Jangan kirim ORANG-ORANG ITU SAJA (kayak si sony, simon, pasangan ganda “baru belajar”, dll).
Akhir kata, saya kembali mau meramal, tahun ini, tidak akan ada prestasi menyolok yang akan disumbangkan tim Indonesia di ajang bulutangkis, seperti kejuaraan Super Series ataupun turnamen2 lainnya, termasuk turnamen yang diselenggarakan di rumah sendiri, kecuali tidak ada pemain asing yang terlibat.. Bahkan, Tradisi emas Olimpiade pun SAYA JAMIN 99% TIDAK AKAN TERLANJUTKAN LAGI, kalau pengelolaan tim dan kemampuan pemain hanya sebatas ini saja…
Hasil lengkap final Indonesia Open Super Series 2009
Tunggal putra
Lee Chong Wei (MAL) vs Taufik Hidayat (INA) 21-9 21-14
Tunggal putri
Saina Nehwal (IND) vs Wang Lin (CHN) 12-21 21-18 21-9
Ganda putra
Jung Jae Sung/Lee Yong Dae (KOR) vs Cai Yun/Fu Haifeng (CHN) 21-15 21-18
Ganda putri
Chin Eei Hui/Wong Pei Tty (MAL) vs Cheng Shu/Zhao Yunlie (CHN) 21-16 21-16
Ganda campuran
Zheng Bo/Ma Jin (CHN) vs Lee Yong Dae/Lee Hyo Jung 21-17 8-21 21-16
Saya mengutip berita di www.detik.com tentang prestasi Indonesia beberapa tahun terakhir ini.
Jakarta - Dunia bulutangkis Indonesia belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan prestasi setelah menurun dalam beberapa tahun terakhir. Tanpa gelar di turnamen di kandang sendiri adalah sebuah bukti lain.
Di Indonesia Open Super Series yang berakhir hari Minggu (21/6/2009) ini, hanya satu wakil "Merah Putih" di babak final, yaitu tunggal putra Taufik Hidayat. Namun ia gagal mengatasi unggulan teratas Lee Chong Wei (Malaysia) dan kalah 9-21 14-21.
Ini adalah kali kedua Indonesia tidak kebagian gelar juara di nomor apapun sejak Indonesia Terbuka dihajat pada 1982 -- dan mulai diberi level Super Series oleh BWF sejak 2007. Dua tahun lalu juga tidak ada pemain tuan rumah yang naik podium juara di Jakarta.
Catatan minus lain tentang prestasi para atlet tepok bulu Indonesia di level tinggi internasional adalah, dari enam kompetisi bertajuk Super Series yang telah digelar di tahun 2009, hanya satu gelar diraih. Di Malaysia Super Series pasangan Nova Widianto/Liliyana Natsir menjadi pemenang di nomor ganda campuran.
Di ajang dunia beregu campuran, yakni Piala Sudirman 2009 di Guangzhou, Indonesia hanya sampai babak semifinal. Mereka dihentikan Korea Selatan, yang di final kalah dari China.
Di Piala Thomas, setelah memenangi lima edisi berturut-turut (1994, 1996, 1998, 2000, dan 2002), hingga kini belum pernah lagi supremasi tertinggi bulutangkis beregu putra itu disemayamkan di Indonesia.
Di Piala Uber bahkan lebih lama lagi. Terakhir kali piala itu dimenangi Indonesia adalah 23 tahun silam.
Di beberapa turnamen besar lain, Indonesia juga tak lagi dominan, bahkan tertinggal jauh terutama jika dibandingkan dengan China. Di All England, misalnya, kali terakhir ada pemain Indonesia yang juara adalah di tahun 2003 atas nama ganda putra Candra Wijaya/Sigit Budiarto.
Di Olimpiade 2008, tradisi satu medali emas sejak Olimpiade Atlanta 1996 belum bisa ditingkatkan. Dari ajang di Beijing, China, tersebut, satu-satunya medali emas yang disumbangkan cabang badminton dibukukan ganda putra Markis Kido/Hendra Setiawan.
Sebagai bumbu pelengkap kekecewaan, pihak PBSI pun menolak mengambil tanggung jawab atas rangkaian kegagalan yang didapat tim Indonesia ini. Zzz…
Saya agak kurang “sreg” mendengar komentar yang dilontarkan Ketua Umum PBSI Djoko Santoso yang menolak mencari kambing hitam dan memilih sikap mengambil hikmahnya saja. Nih dia kutipan komentarnya "Saya berharap kita bisa mengambil hikmah dari kekalahan yang diderita. Jangan selalu mencari kambing hitam," ungkap Djoko kepada wartawan di Istora Senayan, Jakarta.
Ya wong kalah yah kalah. Mau ambil hikmah dari mana, kita selalu kalah terus. Prestasi ibarat kayak matahari yang makin ke barat, alias makin “senja”. Menurut saya, PBSI tetap harus siap menjadi “kambing hitam” publik. Wong namanya bulutangkis kan bernaung di PBSI, masa mau salahkan PSSI, atau yang lain. Jangan Cuma mau enaknya saja donk pak!
Lihat lagi komentar lainnya: Djoko mengaku simpati kepada prestasi para punggawa pelatnas di turnamen kali ini. Namun dikatakannya, lawan-lawan Indonesia sekarang setingkat di atas Sonny Dwi Kuncoro dkk.
Jangankan setingkat bos, bahkan sudah 2-3 tingkat tertinggal. Dulu Negara kita “hanya” kalah dari China. Sekarang, kita sudah kalah dari Korea dan Malaysia, Bahkan melawan Jepang, Singapura, AS, dan Inggris pun sudah harus “ngos-ngosan”. Itu bukti bahwa kemampuan kita bukan maju, malahan mundur. Wong kemampuan tetap saja kita bisa dikejar.
Dan inilah komentar terakhir dari “bos” PBSI ini "Sistem olahraga keseluruhan di Indonesia memang sudah ketinggalan dari negara lain. Makanya kami sekarang sedang mengusahakan pembinaan untuk pebulutangkis muda di Magelang. Mudah-mudahan empat tahun mendatang prestasi kita bakal kelihatan,” pungkasnya.
Mau kayak timnas bareti atau primavera bos? Saya jamin egk akan ada hasilnya! Sekarang saja prestasi para timnas bulutangkis senior sudah jeblok akibat KEMAMPUAN YANG PAYAH (sudah termasuk skill, fisik, dan mental juara). Gimana juniornya? Saya kembali menyarankan PAKAILAH PELATIH ASING. JANGAN GENGSI. Terus tambah dana buat ikut kompetisi di luar negeri. Jangan kirim ORANG-ORANG ITU SAJA (kayak si sony, simon, pasangan ganda “baru belajar”, dll).
Akhir kata, saya kembali mau meramal, tahun ini, tidak akan ada prestasi menyolok yang akan disumbangkan tim Indonesia di ajang bulutangkis, seperti kejuaraan Super Series ataupun turnamen2 lainnya, termasuk turnamen yang diselenggarakan di rumah sendiri, kecuali tidak ada pemain asing yang terlibat.. Bahkan, Tradisi emas Olimpiade pun SAYA JAMIN 99% TIDAK AKAN TERLANJUTKAN LAGI, kalau pengelolaan tim dan kemampuan pemain hanya sebatas ini saja…
14 Juni 2009
Final Ganda Putera Singapore Open 2009 " Duel Pemain Mahir dan Pemain Baru Belajar"
Final Ganda Putera Singapore Open 2009 " Duel Pemain Mahir dan Pemain Baru Belajar"
Menarik untuk disimak, GRAFIK TIM INDONESIA MAKIN TURUN sehabis bermain di Piala Sudirman lalu. Tidak mau banyak membahas di Final yang lain (tunggal putra,Sony Dwi K yang hanya mencapai semifinal dan Greysia/Nitya yang mencapai final), saya lebih ingin membahas Final ganda putra Indonesia, yang diwakili pasangan nomor 1 dunia Hendra/Kido. Setelah pertandingan Nova/Natsir, otomatis sisa pasangan ganda inilah yang dapat memberi gelar juara di Singapura. Peluangnya pun jelas, boleh dikata >50% kita bisa menang, apalagi lawannya "hanya" sekelas Inggris saja yang diwakili oleh A.Clark/N.Robertson, yang tidak memiliki tradisi juara yang kuat. Tapi, saat mulai bermain, lihatlah apa yang terjadi (apalagi yang sempat nonton langsung di Global TV minggu, 14 Juni), pertandingan berjalan ibarat duel pemain mahir dan pemain baru belajar. Hasilnya benar-benar mengecewakan. Tak tanggung-tanggung, skornya 12-21, 10,21! Banyak kesalahan-kesalahan yang "hanya" terjadi kepada orang yang baru belajar bermain bulu tangkis, seperti kena net, out, gagal smash, dan gagal server. Pemain Inggris pun terlihat "ketawa-tawa" dengan lawannya ini. Mungkin dalam hati mereka bergumam "lho, padahal saya sempat takut lho lawan indonesia, tapi ini koq kita seperti lawan wakil negara lain ya?" Penonton pun terdiam (mayoritas pendukung adalah Indonesia). CARA BERMAIN YANG TIDAK LAZIM adalah penyebab kekalahan yang tidak sepantasnya didapat. Bahkan sampai komentator Global TV pun mengomentari "Pemain kita ini seperti pemain yang baru belajar bulu tangkis".
Adapun pembelaan-pembelaan dilakukan, seperti mengatakan bahwa pasangan M.Kido/H.Setiawan bermain habis-habisan di partai semifinal melawan denmark dengan 3 set. Tapi menurut saya, itu tidak pantas dijadikan alasan. Mereka2 yang menekuni olahraga bulu tangkis, pasti sudah disiapkan untuk memiliki fisik yang bagus (seperti ulasan saya di topik PIALA SUDIRMAN yang lalu). Bukan hanya sekadar berharap "moga2 kita bisa menang 2 set langsung". Benar-benar bukan ciri seorang Atlit Profesional! Lain halnya kalau alasannya cidera. Tapi ini tidak sama sekali. Apalagi masalah mental yang menurut saya hanya dimiliki bagi pemula saja. Ini pasangan yang sudah malang melintang dunia badminton. Boleh dikata mereka tiap bulan terbang sana-sini buat main di semua even badminton. Maslah mental sudah tidak mungkin lagi timbul. Apalagi ini main di "negara tetangga". zzzz....
Mau dikata apa lagi. Satu-satunya olahraga "tersisa" yang dimiliki Indonesia ini kelihatan semakin habis masanya. Waktu beberapa minggu yang lalu saya berpikir, umur "sisa" dari tim Indonesia paling masih ada 2-3 tahun. Tapi semenjak pertandingan ini, bisa dibilang sudah habis. Satu-satunya even yang bisa menyelamatkan muka Indonesia adalah pada saat bermain di kandang sendiri, pas sehabis even ini (Singapore Open). Jika 1 gelarpun tidak bisa terselamatkan dikandang sendiri, anda pasti tidak akan menyalahkan bahwa tulisan saya ini "terlalu sinis"...
Menarik untuk disimak, GRAFIK TIM INDONESIA MAKIN TURUN sehabis bermain di Piala Sudirman lalu. Tidak mau banyak membahas di Final yang lain (tunggal putra,Sony Dwi K yang hanya mencapai semifinal dan Greysia/Nitya yang mencapai final), saya lebih ingin membahas Final ganda putra Indonesia, yang diwakili pasangan nomor 1 dunia Hendra/Kido. Setelah pertandingan Nova/Natsir, otomatis sisa pasangan ganda inilah yang dapat memberi gelar juara di Singapura. Peluangnya pun jelas, boleh dikata >50% kita bisa menang, apalagi lawannya "hanya" sekelas Inggris saja yang diwakili oleh A.Clark/N.Robertson, yang tidak memiliki tradisi juara yang kuat. Tapi, saat mulai bermain, lihatlah apa yang terjadi (apalagi yang sempat nonton langsung di Global TV minggu, 14 Juni), pertandingan berjalan ibarat duel pemain mahir dan pemain baru belajar. Hasilnya benar-benar mengecewakan. Tak tanggung-tanggung, skornya 12-21, 10,21! Banyak kesalahan-kesalahan yang "hanya" terjadi kepada orang yang baru belajar bermain bulu tangkis, seperti kena net, out, gagal smash, dan gagal server. Pemain Inggris pun terlihat "ketawa-tawa" dengan lawannya ini. Mungkin dalam hati mereka bergumam "lho, padahal saya sempat takut lho lawan indonesia, tapi ini koq kita seperti lawan wakil negara lain ya?" Penonton pun terdiam (mayoritas pendukung adalah Indonesia). CARA BERMAIN YANG TIDAK LAZIM adalah penyebab kekalahan yang tidak sepantasnya didapat. Bahkan sampai komentator Global TV pun mengomentari "Pemain kita ini seperti pemain yang baru belajar bulu tangkis".
Adapun pembelaan-pembelaan dilakukan, seperti mengatakan bahwa pasangan M.Kido/H.Setiawan bermain habis-habisan di partai semifinal melawan denmark dengan 3 set. Tapi menurut saya, itu tidak pantas dijadikan alasan. Mereka2 yang menekuni olahraga bulu tangkis, pasti sudah disiapkan untuk memiliki fisik yang bagus (seperti ulasan saya di topik PIALA SUDIRMAN yang lalu). Bukan hanya sekadar berharap "moga2 kita bisa menang 2 set langsung". Benar-benar bukan ciri seorang Atlit Profesional! Lain halnya kalau alasannya cidera. Tapi ini tidak sama sekali. Apalagi masalah mental yang menurut saya hanya dimiliki bagi pemula saja. Ini pasangan yang sudah malang melintang dunia badminton. Boleh dikata mereka tiap bulan terbang sana-sini buat main di semua even badminton. Maslah mental sudah tidak mungkin lagi timbul. Apalagi ini main di "negara tetangga". zzzz....
Mau dikata apa lagi. Satu-satunya olahraga "tersisa" yang dimiliki Indonesia ini kelihatan semakin habis masanya. Waktu beberapa minggu yang lalu saya berpikir, umur "sisa" dari tim Indonesia paling masih ada 2-3 tahun. Tapi semenjak pertandingan ini, bisa dibilang sudah habis. Satu-satunya even yang bisa menyelamatkan muka Indonesia adalah pada saat bermain di kandang sendiri, pas sehabis even ini (Singapore Open). Jika 1 gelarpun tidak bisa terselamatkan dikandang sendiri, anda pasti tidak akan menyalahkan bahwa tulisan saya ini "terlalu sinis"...
16 Mei 2009
PIALA SUDIRMAN 2009
PIALA SUDIRMAN 2009
Gagalnya Indonesia melaju ke Final Piala Sudirman 2009 tahun ini sangat mengecewakan saya sebagai penggemar, bahkan seluruh rakyat Indonesia yang sangat mengharapkan agar nama Indonesia terangkat di ajang ini. Di tahun ini Indonesia tergabung satu grup dengan China dibabak pengisihan grup B. Berada di posisi ke dua dalam pengisihan, mengharuskan Indonesia melawan Korea Selatan yang menjadi juara pengisihan grup B.
Hasilnya pun tertebak, setelah menang sukses melawan Jepang 4-1, Inggris 4-1, dan kalah 5-0 melawan China, akhirnya Indonesia pun harus menelan pil pahit, dengan kalah 3-1 melawan Korea di semifinal.
Banyak pihak yang mengatakan, Indonesia kalah karena sejumlah pemain inti tidak fit, seperti pasangan ganda putra M. Kido tidak bisa tampil, dan digantikan M. Ahsan. Juga pasangan ganda putri yang tidak dalam komposisi pasangan yang sebenarnya.
Menurut saya, dengan kekuatan full tim sekalipun, Indonesia peluangnya 49-51 (karena bermain di tandang, china), apalagi tidak dengan kekuatan inti. Pasti kalah total. Benar saja, disepanjang pertandingan yang baru saja saya saksikan berakhir, Indonesia seperti tidak mampu melawan permainan “modern” Korea. Terlihat terlalu lembek dan tidak bertenaga, serta gampang menyerah.
Mau diapa lagi, nasi sudah jadi bubur. Harusnya ini jadi pembelajaran tim Indonesia. Karena sudah sering saya mendengar alasan klasik, seperti kesulitan pendanaan, pembibitan yang tidak merata, dan sebagainya. Harusnya hal ini diseriusi, mengingat Indonesia pernah menjadi “macan asia” di dekade 1950-1990-an. Jangan sampai hanya tinggal menjadi kenangan saja.
Jangan terlalu memaksakan tim yang sudah ada sekarang. Lihatlah sebagian besar pemain yang bernaung di skuad Cipayung HANYA ITU-ITU SAJA selama kurun waktu 2004-2009 ini. Hasilnya, pengalaman pemain muda berkurang, disebabkan jarangnya diberi kesempatan turun di turnamen kelas internasional. Paling parah di sektor tunggal dan ganda puteri. Semenjak ditinggal “master” nya Susi Susanti, junior2 di sektor putri seperti kehilangan induknya. Sampai sekarang tinggal bergantung kepada kemampuan Maria Kristin. Mengapa saya bilang begitu, karena selain skillnya yang menurut saya “pas-pasan lebih sedikit”, kondisi fisiknya juga terbilang labil. Gampang “rusak” dalam bahasa mesinnya. Gimana mau menang, apalagi bertanding, jika disetiap pertandingan selalu rentan cidera. Indonesia perlu pemain yang memiliki daya tahan prima, kalau perlu mendekati ketahanan robot, jarang rusak/cidera. Contohlah para pemain China dan Korea. Pemain mereka memiliki fisik stamina yang prima. Jarang “sakit” dilapangan. Hasilnya, grafik permainan stabil, dan tentunya menunjang dalam mendulang gelar disetiap kompetisi.
Disektor ganda putra juga saya ingin menyoroti sedikit. HARUS SIAPKAN PENGGANTI. Kalau tidak, siap-siaplah anda ketinggalan 1-2 tahun kedepan. Apalagi pasangan2 yang ada saat ini saya melihat sudah “hampir habis”. Jadi jangan sampai ketinggalan dengan negara2 lain, seperti China dan Korea, + Malaysia yang terbilang produktif disektor pria. Regenerasi pemain-pemain mereka bagus, tidak menunggu “habis duluan”, baru dicari. Itu sama saja mulai baru.
Jangan beralasan bibit habis, karena dengan jumlah penduduk yang > 200 juta harusnya bisa mendapatkan 100 pemain terbaik. Masalahnya apakah ada pada bakat pemain2 Indonesia yang selama ini dipanen, ataukah di Indonesia “kalah” dalam kualitas SDM nya dibanding negara2 lain. Hal ini tentu memiliki dasar, karena mengingat Indonesia saat ini berada pada ranking 110 dunia dalam dunia pendidikan (saya tidak ngomong kalo orang Indonesia itu tidak pintar-pintar lho). Dan disaat negara2 lain sudah berlomba2 untuk membuat hal2 baru dengan keuangan Negara yang berlimpah, Indonesia masih harus membiayai utang-utang luar negeri dan pembangunan infrastruktur yang belum merata..
Kalau perlu, PASANG PELATIH ASING. Jangan malu untuk belajar. Dengan bermodal PELAJARAN TEMPOE DULU, masa sanggup meladeni pelajaran modern sekarang yang mengusung kecepatan dalam bermain. Lihat saja, banyak pelatih-pelatih Indonesia yang dipinang Negara asing, seperti Malaysia, Singapura, Prancis, Belanda, AS, dsb. Hal itu tidak menandakan kualitas pelatih yang ada di pelatnas cipayung lebih bagus dari mereka yang mayoritas “buangan”. Siapa tahu kebalikannya. Misalnya dengan menyewa pelatih asal China, tentunya paling tidak kita bisa belajar bagaimana standar2 yang diterapkan dalam latihan dan strategi permainan disana. Jika sudah diserap semua, silahkan tending kalau mau tendang.
Inilah hasilnya! Korupsi dimana-mana, dan bermental “cari gampang” membuat Indonesia semakain jauh tertinggal di bidang olahraga, seperti di Olimpiade, Seagames, termasuk cabang2 seperti Atletik, Sepak bola, Basket, termasuk Badminton, sebagai SATU SATUNYA OLAHRAGA yang dapat dibanggakan Indonesia, malah mengalami masa degradasi…
Gagalnya Indonesia melaju ke Final Piala Sudirman 2009 tahun ini sangat mengecewakan saya sebagai penggemar, bahkan seluruh rakyat Indonesia yang sangat mengharapkan agar nama Indonesia terangkat di ajang ini. Di tahun ini Indonesia tergabung satu grup dengan China dibabak pengisihan grup B. Berada di posisi ke dua dalam pengisihan, mengharuskan Indonesia melawan Korea Selatan yang menjadi juara pengisihan grup B.
Hasilnya pun tertebak, setelah menang sukses melawan Jepang 4-1, Inggris 4-1, dan kalah 5-0 melawan China, akhirnya Indonesia pun harus menelan pil pahit, dengan kalah 3-1 melawan Korea di semifinal.
Banyak pihak yang mengatakan, Indonesia kalah karena sejumlah pemain inti tidak fit, seperti pasangan ganda putra M. Kido tidak bisa tampil, dan digantikan M. Ahsan. Juga pasangan ganda putri yang tidak dalam komposisi pasangan yang sebenarnya.
Menurut saya, dengan kekuatan full tim sekalipun, Indonesia peluangnya 49-51 (karena bermain di tandang, china), apalagi tidak dengan kekuatan inti. Pasti kalah total. Benar saja, disepanjang pertandingan yang baru saja saya saksikan berakhir, Indonesia seperti tidak mampu melawan permainan “modern” Korea. Terlihat terlalu lembek dan tidak bertenaga, serta gampang menyerah.
Mau diapa lagi, nasi sudah jadi bubur. Harusnya ini jadi pembelajaran tim Indonesia. Karena sudah sering saya mendengar alasan klasik, seperti kesulitan pendanaan, pembibitan yang tidak merata, dan sebagainya. Harusnya hal ini diseriusi, mengingat Indonesia pernah menjadi “macan asia” di dekade 1950-1990-an. Jangan sampai hanya tinggal menjadi kenangan saja.
Jangan terlalu memaksakan tim yang sudah ada sekarang. Lihatlah sebagian besar pemain yang bernaung di skuad Cipayung HANYA ITU-ITU SAJA selama kurun waktu 2004-2009 ini. Hasilnya, pengalaman pemain muda berkurang, disebabkan jarangnya diberi kesempatan turun di turnamen kelas internasional. Paling parah di sektor tunggal dan ganda puteri. Semenjak ditinggal “master” nya Susi Susanti, junior2 di sektor putri seperti kehilangan induknya. Sampai sekarang tinggal bergantung kepada kemampuan Maria Kristin. Mengapa saya bilang begitu, karena selain skillnya yang menurut saya “pas-pasan lebih sedikit”, kondisi fisiknya juga terbilang labil. Gampang “rusak” dalam bahasa mesinnya. Gimana mau menang, apalagi bertanding, jika disetiap pertandingan selalu rentan cidera. Indonesia perlu pemain yang memiliki daya tahan prima, kalau perlu mendekati ketahanan robot, jarang rusak/cidera. Contohlah para pemain China dan Korea. Pemain mereka memiliki fisik stamina yang prima. Jarang “sakit” dilapangan. Hasilnya, grafik permainan stabil, dan tentunya menunjang dalam mendulang gelar disetiap kompetisi.
Disektor ganda putra juga saya ingin menyoroti sedikit. HARUS SIAPKAN PENGGANTI. Kalau tidak, siap-siaplah anda ketinggalan 1-2 tahun kedepan. Apalagi pasangan2 yang ada saat ini saya melihat sudah “hampir habis”. Jadi jangan sampai ketinggalan dengan negara2 lain, seperti China dan Korea, + Malaysia yang terbilang produktif disektor pria. Regenerasi pemain-pemain mereka bagus, tidak menunggu “habis duluan”, baru dicari. Itu sama saja mulai baru.
Jangan beralasan bibit habis, karena dengan jumlah penduduk yang > 200 juta harusnya bisa mendapatkan 100 pemain terbaik. Masalahnya apakah ada pada bakat pemain2 Indonesia yang selama ini dipanen, ataukah di Indonesia “kalah” dalam kualitas SDM nya dibanding negara2 lain. Hal ini tentu memiliki dasar, karena mengingat Indonesia saat ini berada pada ranking 110 dunia dalam dunia pendidikan (saya tidak ngomong kalo orang Indonesia itu tidak pintar-pintar lho). Dan disaat negara2 lain sudah berlomba2 untuk membuat hal2 baru dengan keuangan Negara yang berlimpah, Indonesia masih harus membiayai utang-utang luar negeri dan pembangunan infrastruktur yang belum merata..
Kalau perlu, PASANG PELATIH ASING. Jangan malu untuk belajar. Dengan bermodal PELAJARAN TEMPOE DULU, masa sanggup meladeni pelajaran modern sekarang yang mengusung kecepatan dalam bermain. Lihat saja, banyak pelatih-pelatih Indonesia yang dipinang Negara asing, seperti Malaysia, Singapura, Prancis, Belanda, AS, dsb. Hal itu tidak menandakan kualitas pelatih yang ada di pelatnas cipayung lebih bagus dari mereka yang mayoritas “buangan”. Siapa tahu kebalikannya. Misalnya dengan menyewa pelatih asal China, tentunya paling tidak kita bisa belajar bagaimana standar2 yang diterapkan dalam latihan dan strategi permainan disana. Jika sudah diserap semua, silahkan tending kalau mau tendang.
Inilah hasilnya! Korupsi dimana-mana, dan bermental “cari gampang” membuat Indonesia semakain jauh tertinggal di bidang olahraga, seperti di Olimpiade, Seagames, termasuk cabang2 seperti Atletik, Sepak bola, Basket, termasuk Badminton, sebagai SATU SATUNYA OLAHRAGA yang dapat dibanggakan Indonesia, malah mengalami masa degradasi…
Langganan:
Postingan (Atom)







